A PHP Error was encountered

Severity: 8192

Message: strpos(): Non-string needles will be interpreted as strings in the future. Use an explicit chr() call to preserve the current behavior

Filename: MX/Router.php

Line Number: 239

Backtrace:

File: /home/admin/web/sportmagz.com/public_html/application/third_party/MX/Router.php
Line: 239
Function: strpos

File: /home/admin/web/sportmagz.com/public_html/application/third_party/MX/Router.php
Line: 72
Function: set_class

File: /home/admin/web/sportmagz.com/public_html/index.php
Line: 321
Function: require_once

Tenis | Djokovic Ternyata Sempat Ingin Gantung Raket Saat Tersingkir di Roland Garros
  • Jakarta
Tenis

Djokovic Ternyata Sempat Ingin Gantung Raket Saat Tersingkir di Roland Garros

Petenis putra peringkat satu dunia asal Serbia, Novak Djokovic pernah mengatakan bahwa dirinya ingin meninggalkan tenis pada tahun 2010. Namun, pelatihnya Marian Vajda berhasil meyakinkannya untuk keluar dari jurang tersebut.

"Saya telah mengalami beberapa tantangan besar selama karier saya, ketika saya ingin meninggalkan tenis," jelas Djokovic kepada podcast Make it to fake it dikutip laman Akurat.co, Sabtu (6/3).

"Di tahun 2010 ketika saya kalah dalam satu pertandingan perempat final di Roland Garros, saya merasa dunia saya berantakan dan impian saya hancur, dan saya tidak cukup baik untuk mencapai apa yang ingin saya capai.

Tapi, baru-baru ini Djokovic berhasil memenangkan gelar Grand Slam Australia Terbuka untuk mendekatkan perolehan gelarnya dari Rafael nadal dan Roger Federer yang keduanya saat ini mengoleksi 20 gelar.

Bukan hanya itu, petenis yang akrab disapa Djokornole itu juga akan melampau rekor Federer pada hari Senin depan sebagai petenis yang berada di posisi peringkat satu terlama.

Namun, itu semua bisa menjadi sangat berbeda jika bukan karena Marian Vajda yang menasehatinya di Prancis Terbuka 2010. Saat itu Djokovic mengungkapkan curahan emosional setelah kalah dari Jurgen Melzer di perempat final.

"Saya benar-benar berada di tempat yang buruk. Saya sangat menderita, secara emosional, karena saya merasa seperti telah terbentur tembok dan saya tidak dapat melangkah lebih jauh," jelas Djokovic.

"Mereka (timnya) membiarkan saya menangis dan membiarkan saya membebaskan semua emosi yang saya alami dan saya sangat bersyukur karena itu adalah momen penting di sana."

Bagi Djokovic sendiri, seorang pelatih haruslah seseorang yang bisa mengangkat semangat dan daya juang Anda, menunjukan kepada Anda bahwa Anda harus menjadi lebih kuat ketika Anda lemah.

Bahkan, Djokovic sudah menganggap pelatihnya sebagai teman dan manusia yang menjadi pundak untuk bersandar ketika merasa dirinya menjalani cobaan yang terlalu berat.

"Orang-orang yang memahami anda akan membiarkan anda mencurhakan isi hari anda ketika dibutuhkan."

Sumber : Akurat

Bagikan Artikel ini!

Prayuda Anugeraha

Pengamat berita olahraga lokal maupun internasional. Sangat tertarik dengan Liga Inggris..